blogmate adalah area terbuka dan bebas. siapapun kamu, apapun pekerjaanmu, berapapun umurmu, bisa ikutan berdiskusi dan berkomentar di sini. wanna join?

2.1.07

Obat Insinuatif

Kata baginda Rosululloh, hati manusia itu terdiri dari dua sisi, sisi fujur dan sisi taqwa. Sisi fujur diartikan sebagai sisi yang condong pada kebatilan, sementara sisi taqwa cenderung pada kebaikan. Karena dikaruniai dua sisi inilah hidup manusia ga bisa melulu baik atau melulu buruk. Kadang imannya naik, kadang imannya turun. Kalo bahasa baginda Rosul, “Al imanu yazidu wa yankuts,” yang kira2 artinya iman itu turun naik. Naik kalo manusia lagi dikuasai sisi hati yang taqwa, turun kalo sisi fujur lagi mendominasi.
Saat sisi fujur menguasai hari, timbullah beragam penyakit hati. Salah satu penyakit hati yang diwanti-wanti baginda Rosul yaitu su’udzon alias insinuatif. Atawa bahasa mudahnya ialah berburuk sangka. Contohnya begini, kalo ada orang asing ngambil jemuran tetangga kita, kita langsung curiga itu orang adalah maling. Tapi ternyata itu orang adalah saudara tetangga kita yang belum kita kenal. Nah, itu yang disebut su’udzon. Main tuduh hal yang buruk dalam hati sebelum kita sendiri ngecek apa yang kita lihat.
Beberapa hari yang lalu, gw dapet hikmah dari yang namanya su’udzon ini. Ternyata mudah aja untuk ngatasin su’udzon. Solusinya ialah dengan komunikasi dan mau terbuka sama orang lain.
Ceritanya gini, waktu itu udah beberapa hari gw ga ke kantor karena alasan gw ngerjain skripsi. Gw udah ijin ko ke atasan gw. Tapi, pas lagi asik2nya ngerjain skripsi, tau-tau ada sms masuk. Intinya sms itu berbunyi klo gw harus rutin lagi piket ke kantor. Pas gw tanya lebih dalam, kata sang pengirim sms, air muka temen2 di kantor ga enak memandang padanya. Dan tiap kali sang pengirim sms itu mo keluar kantor untuk sholat atau sekadar makan, selalu ditanya2in mo kemana gerangan.
Sontak, gw kaget. Benarkah demikian?
Tapi gw selalu berprinsip, berita terbaik dan paling tepercaya adalah berita dari sumber pertama. Jadi, gw ga mo kemakan isi sms itu dulu. Alhasil, terdorong rasa penasaran dan ga enak, besoknya gw ke kantor. Gw pengen ngebuktiin sendiri kaya gmn sih air muka ga enak itu.
Dueeengg…!! Ternyata bener. Air muka mereka ga enak. Bahkan kalo biasanya ada yg menyapa gw tiap menginjakkan kaki ke kantor, hari itu ga ada. Ups, tapi gw ga mo kemakan perasaan. Menjelang siang, didorong rasa ga enak dan penasaran, mulailah gw angkat bicara. Caranya : gw mulai tanya2 sm orang2 di kantor yg gw anggap lumayan deket sm gw. Dan jawabannya, “Ga ada apa2 ko. Lagi ga ada masalah apa2 di kantor. Emang sih lagi pada sibuk deadline, tapi semuanya normal2 aja ko.” Itu jawaban pertama.
Pertanyaan itu gw ajuin lagi ke orang lain. Dan jawabannya, “Ga ada apa2 ko. Bener. Mungkin dianya (sang pengirim sms) aja yg terlalu sensitif. Lagian emang muka saya (yang gw tanya) dari sononya jutek khan?”
So, what’s the point? Intinya, emang ga ada apa2 di kantor. Emang lagi pada sibuk aja, jadi air mukanya tegang dan ga enak diliat. Akhirnya gw berkesimpulan klo sang pengirim sms berpikir demikian (air muka org kantor ga enak ke sang pengirim sms) karena ada perasaan bersalah dalam dirinya krn dia pun ga masuk2 kantor. Perasaan bersalahnya itu berimplikasi pada pikiran dan perasaannya dalam menerjemahkan situasi di lingkungannya. Dan… muncullah su’udzon. Hasilnya… luar biasa loh. Pantes baginda Rosul wanti2 sama penyakit ini. Bisa diliat sendiri di diri sang pengirim sms betapa dia pada akhirnya memandang negatif lingkungan di kantor, mengucilkan diri sendiri, menjauh, dan menutup diri. Dan sikapnya itu bisa jadi menimbulkan su’udzon baru dari orang lain.
Wah… wah… jadi makin belibet n kompleks ya… hmm… pokonya, inti tulisan ini adalah bahwa yg namanya su’udzon itu bisa diatasi sama tiga hal :
- berpikir skeptis
- komunikasi
- tabayyun (cek n ricek)
Dengan berpikir skeptis, secara ga langsung kita menyaring info2 yg masuk ke otak kita yg bisa mempengaruhi perasaan dan pemikiran kita. Alhasil, pandangan kita tetap netral dan terjaga sampe tiba saatnya kita untuk komunikasi dan tabayyun about what the hack happen is.
Dengan berkomunikasi, kita membuat aliran informasi dari kedua belah pihak lancar. Kita bisa tau isi hati dan perasaan orang lain, pun sebaliknya kita bisa ngeluarin apa yang kita rasa dan pikirin. Klo komunikasi ini berjalan dengan baik, kita bisa sampe pada tahap tabayyun yg sekaligus jadi tahap “ketuk palu” apakah berita yang kita denger betul atawa kaga.
Dengan memegang tiga hal tersebut, insya Alloh, virus insinuatif ga sempet merangkul hati kita untuk tergelincir jadi sisi fujur. Atao, kalopun udah, gw pikir ga ada kata terlambat untuk membalik sisi tersebut dgn mengakui kesalahan dan membuka diri untuk membuang segala prasangka buruk.
Bagaimana pun, kita harus menyanjung tinggi yang namanya komunikasi. Walaupun kata pakar komunikasi Lintas Budaya Unpad Prof. Dedy Mulyana, komunikasi itu bukan panasea (obat segala macam penyakit) tapi sejauh ini komunikasi masih bisa dipakai sebagai pintu awal untuk berdamai. Dan satu lagi yg jangan sampe kita lupakan, SELALU SKEPTIS dan SEBISA MUNGKIN DAPATKAN INFORMASI DARI SUMBER PERTAMA. Itu prinsip2 jurnalis yg gw dapet di bangku perkuliahan dan udh gw buktiin di lapangan.

Met mencoba!! Wallohu a’lam.

0 komentar:

Post a Comment